Verifikasi Bukti-Bukti Renvoi Prosedur Cindro Pujiono Pada Pekan Depan Memasuki Agenda Kesimpulan.

58

Surabaya-basudewanews.com, Upaya hukum Cindro Pujiono berupa, Renvoi kepailitan (PKPU) pada Selasa (27/4/2021) memasuki agenda akhir verifikasi atau pencocokan piutang lantaran, masing masing pihak terdapat selisih nilai atas tagihan-tagihan yang diserahkan oleh, Kurator.

Di agenda akhir verifikasi masing-masing pihak telah melampirkan bukti-bukti sehingga, Majelis Hakim menyampaikan bahwa pekan depan bergulir agenda kesimpulan.

Secara terpisah, Hans Edward Hehakaya selaku, Penasehat Hukum Cindro Pujiono  menyampaikan, pihaknya telah melampirkan bukti bukti guna memperkuat Yuriprudensi bahwa bukti berupa Poto copy tidak bisa diterima atau diajukan sebagai bukti.

Atas putusan Onslag pada perkara pidana yang pernah melibatkan kliennya sebagai terdakwa bisa dijadikan perkara tersebut, adalah perdata.

Lebih lanjut, mengacu pada Peraturan Mahkamah Agung bahwa upaya hukum Renvoi berlaku bagi kliennya. Hal ini sengaja disampaikan pada persidangan sebelumnya, kurator merasa keberatan atas Renvoi yang diajukan oleh, kliennya.

Sementara, bukti-bukti surat jalan yang diajukan kurator hanya berupa Poto copy tidak ada aslinya. Selain itu, kurator juga ajukan bukti-bukti yang tidak ada materai atau Leges serta dalam bukti surat pernyataan dari para sopir-sopir bahwa ada pengiriman ke tempat kliennya namun, dalam bukti surat pernyataan tersebut, pengiriman barang ada yang tertuju ke Surabaya, Mojokerto sehingga kliennya merasa keberatan.

Dengan renvoi prosedur ini, Cindro selaku pemohon masih berhak untuk melakukan kegiatan usahanya meski tanpa ada ijin dari kurator.
“Dengan renvoi prosedur ini, perkara pailit untuk sementara di hentikan. Dan pemohon masih bisa melakukan kegiatan seperti biasa karena statusnya bukan pailit tapi masih dalam pailit,” terangnya.

Masih diruang yang sama, Cindro Pujiono kepada basudewanews.com, mengatakan,
bahwa bukti nota tagihan yang asli sudah dikirim namun, belum dibayar ditangkis oleh,Cindro Pujiono dengan menyebut, orang konyol.
” Nota tagihan terbentuk 3 macam yaitu, putih, kuning dan merah tidak ada hanya berupa bentuk Poto copy. Mana ada nota 3 macam yang saya sebut, tidak ada, mereka (kurator) beralasan nota yang asli sudah dikirim tapi belum ada pembayaran, Khan ! ini konyol ,” tegasnya.

Sementara itu, Judha Sasmita selaku, kurator saat ditemui, menjelaskan alur pemesanan, pengiriman, penagihan, pembayaran, antara PT. Samudera Baja Dunia dengan Cindro Pujiono.

Menurut Judha, dalam alur itu, yang pertama adalah purchase order yang dikirim Cindro Pujiono Po melalui WhatsApp. Pihak PT. Samudera Baja Dunia lalu mengirimkan pesanan menggunakan mobil sendiri maupun menggunakan jasa ekspedisi kemudian ditempat tujuan, surat jalan warna merah ditinggal di lokasi tempat Cindro, yang asli dibawa balik ke Semarang,” ujar Judha.

Dalam melakukan penagihan, menggunakan dokumen surat jalan asli, print-out faktur pajak dikirim melalui JNE. Selanjutnya, pembayaran akan dibayarkan sesuai jumlah invoice ke rekening pengirim.

Selain menunjukkan beberapa tagihan yang sudah dibayar Cindro, namun surat jalan yang asli tidak ada di PT. Samudera Baja Dunia namun ada di Cindro.

Dari surat jalan asli yang sudah dikirimkan ke Cindro waktu itu, bahkan ada pembayaran sebesar Rp. 60 juta. Semuanya inj dikirim melalui JNE. Terkadang, satu JNE untuk mengirim dua nota.

Masih menurutnya, dalam persidangan telah ada pengakuan dari orang yang mengirim surat jalan disertai dengan materai namun, Cindro Pujiono tetap mengingkarinya.  MET.