Connect with us

Hukrim

Perkara Hendra Effendi dan Jemmy Indarko Penyalah Guna Sabu, Ingatkan Perkara DJ.Fermenta Yang Divonis 7 Bulan Rehabilitasi.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Perkara penyalahguna sabu yang menjadikan, Hendra Effendi dan Jemmy Indarko sebagai terdakwa dipersidangan Pengadilan Negeri Surabaya, pada Senin (25/4/2021), telah mengingatkan pada perkara DJ. Fermenta juga sebagai terdakwa lantaran, menyalah guna narkoba jenis sabu dijatuhi vonis 7 bulan Rehabilitasi.

Kala putusan 7 bulan rehabilitasi bagi DJ.Fermenta dijatuhkan oleh, Johanis Hehamony selaku, Majelis Hakim. Sedangkan, M.Fusthaathul Amri selaku, Penasehat Hukum DJ.Fermenta.

Kali ini, M.Fusthaathul Amri selaku, tim Penasehat Hukum kedua terdakwa (Hendra Effendi dan Jemmy Indarko) menyampaikan, bahwa kedua kliennya telah mendapatkan surat keterangan dokter. Bahwa kliennya, ketergantungan narkoba jenis sabu. Hal tersebut, disampaikan dihadapan Johanis Hehamony selaku, Majelis Hakim.

Bisa dibayangkan, peristiwa persidangan dengan terdakwa DJ.Fermenta yang dijatuhi vonis 7 bulan rehabilitasi menggusik ingatan akankah kedua terdakwa Hendra Effendi dan Jemmy Indarko juga mendapatkan vonis 7 bulan Rehabilitasi ?.

Pasalnya, Majelis Hakim (Johanis Hehamony) dan M.Fusthaatul Amri selaku, Penasehat Hukum sama persis pada perkara terdakwa DJ.Fermenta.

Dipersidangan, Ahmad Muzakky selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menghadirkan Hanung (berkas terpisah) yang didakwa sebagai penjual sabu terhadap kedua terdakwa.

Dalam keterangan, Hanung sampaikan menguasai sabu 2 kantong dengan total keseluruhan seberat 1 gram.

Ia, mendapatkan sabu dari transaksi yang di ranjau  Diantara rekan-rekannya yang kerap menggunakan sabu diantaranya, Robby, Koko alias Jemmy Indarko dan Hendra Effendi.

Dalam keterangannya, Hanung (berkas terpisah) mengatakan, tidak menjual sabu. Hendra dan Jemmy kerap menggunakan sabu secara patungan dengannya.

Lebih lanjut, Hanung membeberkan, beli sabu 1 gram dan diketahui kedua terdakwa. Seperti biasa kedua terdakwa masing-masing memberi 100 ribu dan oleh, Hanung di beri 2 poket guna dipakai bersama.
” Tiap poket seharga 200 ribu. Kedua terdakwa patungan masing-masing 100 ribu lalu pesan chat bahwa sudah menunggu dirumah Hanung namun, Ia berencana menjemput cewek guna diajak memakai sabu bersama,” ujarnya.

Pengakuan Hanung, saat akan menjemput cewek keburu ditangkap oleh, pihak kepolisian. Padahal, kedua terdakwa sudah menunggu di rumahnya (dengan maksud akan memakai sabu bersama).

Diujung keterangan Hanung, kedua terdakwa mengamini. Sayangnya, meski kerap memakai sabu bersama hanya kedua terdakwa yang mendapatkan surat keterangan dari dokter bahwa kedua terdakwa dalam keadaan ketergantungan sabu.

Sesi selanjutnya, M.Fusthaathul Amri dan Agus Mulyo selaku, tim Penasehat Hukum kedua terdakwa menghadirkan, M. Arifin sebagai dokter guna memberikan keterangan.

Dalam keterangannya, M. Arifin sebagai dokter kedua terdakwa menyampaikan, kedua terdakwa datang tidak secara bersamaan pada medio Desember 2020 untuk berobat ketergantungan sabu.

Masih menurutnya, kedua terdakwa mengalami sakit jika tidak memakai sabu. Selang berikutnya, kedua datang kembali menyatakan sudah kembali baik.

Beberapa bulan kemudian, ia dipanggil kepolisian atas ditangkap kedua terdakwa karena penyalah guna sabu.

Secara terpisah, saat ditemui awak media, M.Arifin mengatakan, kedua terdakwa datang di yayasan Orbit.

Ia menyarankan agar kedua terdakwa rehabilitasi dan belum saya beri rekomendasi karena kedua terdakwa masih pasiennya.
“Tiba-tiba kedua terdakwa ditangkap kepolisian,” pungkasnya.

Sementara, M.Fusthaathul Amri dan Agus Mulyo selaku, tim Penasehat Hukum kedua terdakwa saat ditemui guna sampaikan keterangan lebih memilih ngacir menghindari para awak media.        MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hukrim

Imam Safi’i Bin Amin Jual Ineks Di Cafe Phoenix Jalan Kenjeran Surabaya, Diadili

Published

on

Basudewa – Surabaya, Imam Safi’i layani transaksi yang sengaja dilakukan pihak berwajib secara Under Cover berbuah ke meja hijau.

Proses hukum bagi Imam Safi’i yang ditetapkan sebagai terdakwa guna jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Kamis (11/8/2022).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, dalam bacaan dakwaannya, mengatakan, terdakwa telah menawarkan pil ineks warna biru, terhadap pihak berwajib yang menyamar guna melakukan Under Cover.

Transaksi dilakukan terdakwa tepatnya, di pub Phoenix Jalan.Kenjwran Surabaya. Akibat dari perbuatannya, JPU, menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 114 ayat (1) atau 112 ayat (1) Undang Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Sesi selanjutnya, JPU menghadirkan 2 orang saksi dari Kepolisian yang melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Adapun, ke-dua saksi diantaranya, yakni, Dedy Aprilianto dan Wisesa.

Dalam keterangannya, Dedy, mengatakan, terdakwa ditangkap atas penyalahgunaan ekstasi, pada minggu (20/3/2022), sekira pukul : 02.00 dini hari, di klub Phoenix, Jalan. Kenjeran Surabaya.

Dari penangkapan, ditemukan 2 butir ineks dalam tas terdakwa. Selanjutnya, dilakukan pengembangan ditemukan Barang Bukti BB pil ineks sebanyak 18 butir.

Masih menurut saksi, dari pengakuan terdakwa pil ineks didapat dari Bombay yang kini statusnya, ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Lebih lanjut, saksi menjelaskan, ineks sudah diedarkan oleh terdakwa. Dari peredaran ineks tersebut, terdakwa mendapatkan keuntungan sebesar 50 Ribu tiap butirnya, yang dihargai sebesar 450 Ribu.

Terdakwa ditangkap, lantaran, setelah melakukan transaksi peredaran ineks dengan petugas.

Melalui agenda pemeriksaan, terdakwa mengaku, jika mengedarkan ineks diluar klub Phoenix Jalan Kenjeran Surabaya.

Pengakuan terdakwa lainnya, tiap transaksi terdakwa mendapatkan keuntungan sebesar 50 Ribu tiap butirnya.    TIM.

 

 

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca

Trending