Perkara Hendra Effendi dan Jemmy Indarko Penyalah Guna Sabu, Ingatkan Perkara DJ.Fermenta Yang Divonis 7 Bulan Rehabilitasi.

93

Surabaya-basudewanews.com, Perkara penyalahguna sabu yang menjadikan, Hendra Effendi dan Jemmy Indarko sebagai terdakwa dipersidangan Pengadilan Negeri Surabaya, pada Senin (25/4/2021), telah mengingatkan pada perkara DJ. Fermenta juga sebagai terdakwa lantaran, menyalah guna narkoba jenis sabu dijatuhi vonis 7 bulan Rehabilitasi.

Kala putusan 7 bulan rehabilitasi bagi DJ.Fermenta dijatuhkan oleh, Johanis Hehamony selaku, Majelis Hakim. Sedangkan, M.Fusthaathul Amri selaku, Penasehat Hukum DJ.Fermenta.

Kali ini, M.Fusthaathul Amri selaku, tim Penasehat Hukum kedua terdakwa (Hendra Effendi dan Jemmy Indarko) menyampaikan, bahwa kedua kliennya telah mendapatkan surat keterangan dokter. Bahwa kliennya, ketergantungan narkoba jenis sabu. Hal tersebut, disampaikan dihadapan Johanis Hehamony selaku, Majelis Hakim.

Bisa dibayangkan, peristiwa persidangan dengan terdakwa DJ.Fermenta yang dijatuhi vonis 7 bulan rehabilitasi menggusik ingatan akankah kedua terdakwa Hendra Effendi dan Jemmy Indarko juga mendapatkan vonis 7 bulan Rehabilitasi ?.

Pasalnya, Majelis Hakim (Johanis Hehamony) dan M.Fusthaatul Amri selaku, Penasehat Hukum sama persis pada perkara terdakwa DJ.Fermenta.

Dipersidangan, Ahmad Muzakky selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menghadirkan Hanung (berkas terpisah) yang didakwa sebagai penjual sabu terhadap kedua terdakwa.

Dalam keterangan, Hanung sampaikan menguasai sabu 2 kantong dengan total keseluruhan seberat 1 gram.

Ia, mendapatkan sabu dari transaksi yang di ranjau  Diantara rekan-rekannya yang kerap menggunakan sabu diantaranya, Robby, Koko alias Jemmy Indarko dan Hendra Effendi.

Dalam keterangannya, Hanung (berkas terpisah) mengatakan, tidak menjual sabu. Hendra dan Jemmy kerap menggunakan sabu secara patungan dengannya.

Lebih lanjut, Hanung membeberkan, beli sabu 1 gram dan diketahui kedua terdakwa. Seperti biasa kedua terdakwa masing-masing memberi 100 ribu dan oleh, Hanung di beri 2 poket guna dipakai bersama.
” Tiap poket seharga 200 ribu. Kedua terdakwa patungan masing-masing 100 ribu lalu pesan chat bahwa sudah menunggu dirumah Hanung namun, Ia berencana menjemput cewek guna diajak memakai sabu bersama,” ujarnya.

Pengakuan Hanung, saat akan menjemput cewek keburu ditangkap oleh, pihak kepolisian. Padahal, kedua terdakwa sudah menunggu di rumahnya (dengan maksud akan memakai sabu bersama).

Diujung keterangan Hanung, kedua terdakwa mengamini. Sayangnya, meski kerap memakai sabu bersama hanya kedua terdakwa yang mendapatkan surat keterangan dari dokter bahwa kedua terdakwa dalam keadaan ketergantungan sabu.

Sesi selanjutnya, M.Fusthaathul Amri dan Agus Mulyo selaku, tim Penasehat Hukum kedua terdakwa menghadirkan, M. Arifin sebagai dokter guna memberikan keterangan.

Dalam keterangannya, M. Arifin sebagai dokter kedua terdakwa menyampaikan, kedua terdakwa datang tidak secara bersamaan pada medio Desember 2020 untuk berobat ketergantungan sabu.

Masih menurutnya, kedua terdakwa mengalami sakit jika tidak memakai sabu. Selang berikutnya, kedua datang kembali menyatakan sudah kembali baik.

Beberapa bulan kemudian, ia dipanggil kepolisian atas ditangkap kedua terdakwa karena penyalah guna sabu.

Secara terpisah, saat ditemui awak media, M.Arifin mengatakan, kedua terdakwa datang di yayasan Orbit.

Ia menyarankan agar kedua terdakwa rehabilitasi dan belum saya beri rekomendasi karena kedua terdakwa masih pasiennya.
“Tiba-tiba kedua terdakwa ditangkap kepolisian,” pungkasnya.

Sementara, M.Fusthaathul Amri dan Agus Mulyo selaku, tim Penasehat Hukum kedua terdakwa saat ditemui guna sampaikan keterangan lebih memilih ngacir menghindari para awak media.        MET.