Pegawai Jasa Marga Bawa Lintingan Ganja Dijerat Pasal 111 Ayat 1.

89

Surabaya-basudewanews.com,  Arif Trilaksana salah satu pegawai Jasa Marga dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu, membawa lintingan ganja saat bertugas dijalan tol. Atas perbuatannya, kini Arif Trilaksana (terdakwa) jalani proses peradilan di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Kamis (22/4/2021).

Dipersidangan, Nur Hayati selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menghadirkan saksi yang melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Menurut keterangan saksi, terdakwa ditangkap dijalan tol Pasuruan-Pandaan.
” Terdakwa kami amankan saat bertugas patroli dijalan tol. Untuk tepatnya,saksi lupa, pada titik kilometer berapa saat ditangkap ,” jelasnya.

Dalam penangkapan, diketemukan 2 lintingan ganja yang disimpan dalam tas terdakwa.

Saksi menambahkan, saat penangkapan hingga tingkat penyidikan saksi tidak mengetahui jika terdakwa dalam keadaan ketergantungan dan dalam proses pengobatan dari dokter.

Penasehat Hukum terdakwa, berupaya meyakinkan Majelis Hakim jika kliennya dalam proses pengobatan atau ketergantungan ganja. Upaya Penasehat Hukum terdakwa berupa, menunjukkan bukti surat assessment dari dokter.

Meski, dalam proses pengobatan karena ketergantungan ganja, pihak JPU dalam dakwaannya, menjerat terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 114, pasal 111 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Secara terpisah, Yunus Susanto selaku, Penasehat Hukum terdakwa kepada basudewanews.com, menyampaikan, seharusnya pihak kepolisian tidak boleh sewenang-wenang melakukan penangkapan kliennya. Memang penangkapan adalah tugas dari kepolisian namun, semestinya pihak kepolisian bisa membedakan atau memilah kliennya korban atau pengedar?.

Masih menurutnya, dalam hal ini, kliennya adalah korban. Pihak kepolisian tidak cermat sehingga kliennya malah dijerat pasal 114, pasal 111.

Seharusnya, penyidik menjerat terdakwa pasal 127. Alasannya, kliennya bukan sebagai pengedar melainkan adalah korban yang juga harus diperhatikan.

Assessment jelas bahwa kliennya mulai berobat Pada medio Oktober, Nopember dan Desember ditangkap oleh kepolisian.

Ia berharap, Majelis Hakim jeli dan peka terhadap masalah yang dihadapi kliennya.
” Kliennya ditangkap dalam keadaan bertugas karena dari informasi masyarakat terdakwa menggunakan ganja dan bukti assessment akan dijadikan bagian dari nota pembelaan. Seharusnya, kliennya di rehabilitasi dan jika dipersidangan selanjutnya, putusan Majelis Hakim tidak sesuai dengan harapannya maka secara tegas ia menyatakan banding , ” pungkasnya.            MET.