Connect with us

Hukrim

Terancam Pailit Dengan Bukti Foto Copy, Cindro Pujiono Ajukan Renvoi Prosedur.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Cindro Pujiono Po, termohon kasus kepailitan mengajukan renvoi kepailitan atas verifikasi pencocokan piutang yang dianggap tidak benar, karena didasarkan atas bukti foto copy, tanpa ada aslinya.

Dalam sidang renvoi prosedur tersebut, I Made Subagia selaku, Majelis Hakim memeriksa sejumlah bukti-bukti dari para pihak, baik pihak pemohon, maupun pihak termohon dan kurator.

Dari pemeriksaan bukti-bukti yang diajukan, diketahui adanya bukti tagihan piutang yang tidak ada aslinya. Hanya berupa foto copy yang di foto copy.
“Jadi ini foto copy di foto copy lagi ya,” ujar hakim Made saat melakukan pencocokan bukti-bukti piutang diruang sidang Tirta 2 Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (20/4/2021).

Selanjutnya, Majelis Hakim terpaksa menunda persidangan selama satu pekan karena masih ada bukti-bukti yang belum diserahkan oleh pihak kurator.
“Untuk saat ini kami anggap cukup, pemeriksaan dilanjutkan sepekan kedepan,” ujarnya.

Usai persidangan, Hans Edward Hehakaya mengatakan, renvoi prosedur tersebut, diajukan karena pihaknya tidak diberi ruang saat proses sidang PKPU maupun sidang kepailitan sebelumnya.
“Renvoi prosedur ini kami ajukan karena adanya selisih tagihan atau tagihan yang tidak benar. Ini sudah kami ajukan sebelumnya di PKPU dan saat rapat Kreditur, tapi saat itu kami tidak diberi ruang oleh hakim pengawas,” ungkapnya.

Bukti yang dimaksud tidak benar tersebut, lanjut Hans, diantaranya bukti yang hanya berbentuk foto copy bukan asli dan tagihan yang tidak sesuai, seperti tagihan bahan bakar yang tidak bisa dibuktikan.
“Ada bukti bensin ke Jombang tapi tidak bisa di buktikan. Karena tokonya bukan hanya toko kami, kalau truknya ke Jombang bisa saja mampir ke tempat lain,” terangnya.

Selain itu, dari pencocokan renvoi prosedur tersebut, Hans mengaku bukti-bukti yang diajukan telah diterima oleh Majelis Hakim.

Dari bukti-bukti tersebut, terungkap bahwa utang yang dimiliki pemohon renvoi prosedur hanya sebesar 50 juta dari angka piutang pailit yang diajukan sebesar 3,5 Milyard.
“Yang cocok hanya 50 juta, selebihnya tidak cocok,” kata Hans.

Dengan renvoi prosedur ini, Cindro selaku pemohon masih berhak untuk melakukan kegiatan usahanya meski tanpa ada ijin dari kurator.
“Dengan renvoi prosedur ini, perkara pailit untuk sementara di hentikan. Dan pemohon masih bisa melakukan kegiatan seperti biasa karena statusnya bukan pailit tapi masih dalam pailit,” terangnya.

Sementara itu, Yudha Sasmita salah seorang kurator yang menjadi termohon dalam renvoi prosedur ini enggan berkomentar terkait materi yang dimohonkan Cindro Pujiono Po.
“Tidak ada komentar,” pungkasnya.

Diketahui, Sebelum mengajukan renvoi prosedur atas utang yang ditetapkan dalam rapat kreditur kepailitan, Cindro melalui kuasa hukumnya sempat mengadukan Hakim Pengawas ke Bawas Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.

Laporan tersebut, dilayangkan Cindro karena Hakim Pengawas dinilai telah melanggar norma Hakim dan tidak bersikap netral, dengan mengabaikan keberatannya atas bukti foto copy yang diajukan pemohon PKPU hingga berlanjut ke proses Pailit.

Permohonan pailit ini bermula dari putusan perkara PKPU Nomor 84/Pdt.Sus-PKPU/2020/PN.Niaga Sby yang dimohonkan oleh tiga perusahaan, diantaranya PT.Samudera Baja Dunia, PT.Sumberbina Karya Mandiri dan PT.Trininsyah Mandiri Perkasa atas tagihan yang telah jatuh tempo.          MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hukrim

Imam Safi’i Bin Amin Jual Ineks Di Cafe Phoenix Jalan Kenjeran Surabaya, Diadili

Published

on

Basudewa – Surabaya, Imam Safi’i layani transaksi yang sengaja dilakukan pihak berwajib secara Under Cover berbuah ke meja hijau.

Proses hukum bagi Imam Safi’i yang ditetapkan sebagai terdakwa guna jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Kamis (11/8/2022).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, dalam bacaan dakwaannya, mengatakan, terdakwa telah menawarkan pil ineks warna biru, terhadap pihak berwajib yang menyamar guna melakukan Under Cover.

Transaksi dilakukan terdakwa tepatnya, di pub Phoenix Jalan.Kenjwran Surabaya. Akibat dari perbuatannya, JPU, menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 114 ayat (1) atau 112 ayat (1) Undang Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Sesi selanjutnya, JPU menghadirkan 2 orang saksi dari Kepolisian yang melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Adapun, ke-dua saksi diantaranya, yakni, Dedy Aprilianto dan Wisesa.

Dalam keterangannya, Dedy, mengatakan, terdakwa ditangkap atas penyalahgunaan ekstasi, pada minggu (20/3/2022), sekira pukul : 02.00 dini hari, di klub Phoenix, Jalan. Kenjeran Surabaya.

Dari penangkapan, ditemukan 2 butir ineks dalam tas terdakwa. Selanjutnya, dilakukan pengembangan ditemukan Barang Bukti BB pil ineks sebanyak 18 butir.

Masih menurut saksi, dari pengakuan terdakwa pil ineks didapat dari Bombay yang kini statusnya, ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Lebih lanjut, saksi menjelaskan, ineks sudah diedarkan oleh terdakwa. Dari peredaran ineks tersebut, terdakwa mendapatkan keuntungan sebesar 50 Ribu tiap butirnya, yang dihargai sebesar 450 Ribu.

Terdakwa ditangkap, lantaran, setelah melakukan transaksi peredaran ineks dengan petugas.

Melalui agenda pemeriksaan, terdakwa mengaku, jika mengedarkan ineks diluar klub Phoenix Jalan Kenjeran Surabaya.

Pengakuan terdakwa lainnya, tiap transaksi terdakwa mendapatkan keuntungan sebesar 50 Ribu tiap butirnya.    TIM.

 

 

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca

Trending