Connect with us

Hukrim

Diadili, Dadi Haryadi Sangkal Keterangan 2 Saksi.

Published

on

Surabaya-basudewanews com, Proses peradilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Dadi Haryadi disangkakan membuat surat palsu hingga rugikan CV Sagung Seto sebesar 158 juta. Proses peradilan bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, memaksa Dadi Haryadi sebagai terdakwa menyangkal keterangan 2 orang saksi yang dihadirkan Sabetania selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, pada Rabu (7/4/2021).

Keukeuh menyangkal keterangan 2 orang saksi dalam persidangan yang bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, membuat Hisbullah selaku, Majelis Hakim mempertegas sangkalan terdakwa berupa,
terdakwa menandatangani surat perjanjian kontrak kerjasama atau tidak ?.
” Tidak Yang Mulia, saya terima surat kontrak memang sudah ada tandatangan,” tegasnya.

Terdakwa pun, juga menambahkan, bahwa keterangan, Miyoto selaku, Direktur CV Sagung Seto dan Hendro ada yang salah.

Diujung persidangan, terdakwa maupun kedua saksi sama sama meyakini untuk tetap pada keterangannya di persidangan.

Secara terpisah, Salim Batalin selaku, Penasehat Hukum terdakwa, saat ditemui, mengatakan, hasil persidangan kliennya tidak mengakui. Ketika surat kontrak diambil sudah ada tanda tangan yang dipalsukan dari administrasi namun, berbeda dengan keterangan kedua saksi.
” Kontrak memang ada tapi pekerjaan belum dilaksanakan. Dalam perkara ini, kliennya dijerat pasal 263 ayat (1) KUHPidana,” pungkasnya.

Untuk diketahui, yayasan pendidikan Perbanas Jatim, yang beralamatkan jalan Nginden Semolo 14 Surabaya, memberikan penunjukan langsung (PL) terhadap Wiyoto selaku, Direktur CV.Sagung Seto yang beralamatkan jalan Pramuka 27 Jakarta Timur, dalam kwitansi pembayaran sebesar 158 juta untuk langganan E-journal EBSCO sesuai faktur nomor 076/F/55/08/2017 terdakwa selaku, Regional Manager diduga memalsukan tanda tangan di atas surat kuitansi tersebut. MET.

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending