Terungkap dan Diakui, Christian Halim Gunakan Dana Diluar Peruntukan RAB.

88

Surabaya-basudewanews.com, Dugaan perkara penipuan pembangunan infrastruktur tambang senilai 20 Milyard yang menjadikan Christian Halim sebagai terdakwa telah tiba sebuah momen yang ditunggu-tunggu yakni agenda pemeriksaan terdakwa.

Pasalnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, yang diketuai Ni Made Purnami menggelar sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa, pada Selasa (6/4/2021).

Namun, agenda sidang yang oleh terdakwa diharapkan bisa membantu posisinya, ternyata malah sebaliknya. Karena, pada agenda sidang tersebut, terdakwa bisa menjelaskan apapun sesuai alibi nya dengan tujuan agar dijadikan pertimbangan Majelis Hakim selaku pemeriksa perkara.

Sayangnya, keterangan yang disampaikan terdakwa pada agenda sidang kali ini, menurut, Novan B Arianto selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jatim, malah membuat unsur dalam dakwaan terpenuhi.

Terdakwa mengakui bahwa dirinya mempergunakan dana milik pelapor untuk peruntukan kebutuhan diluar ketentuan Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek infrastruktur yang sebelumnya sudah disepakati.
“Saat pengerjaan, saya menghadapi 10 kali kendala di lapangan dan setiap kendala, ia membutuhkan dana penyelesaian yang saya ambilkan dari RAB dan total dana yang saya gunakan dari penyelesaian 10 kendala sekitar 1 Milyard. Salah satunya untuk proses pembersihan lahan dan uang jaminan pemegang IUP,” ujar terdakwa menjawab pertanyaan tim Penasehat Hukum (PH).

Ia pun menceritakan, bahwa sempat melakukan upaya audit mandiri guna menjawab tudingan pemberi modal yang mengatakan, bahwa nominal harga yang ditentukan olehnya terlalu besar dari harga di pasaran.

Namun, terdakwa mengakui bahwa untuk mendukung hasil auditnya tersebut, dirinya tidak pernah menyerahkan bukti pengeluaran yang diserahkan kepada pelapor maupun Gentha. Baik itu berupa invoice pembelian material atau laporan lainnya.
“Tidak sempat, karena waktunya tidak cukup, karena saya sudah terlanjur dilaporkan ke polisi,” ujarnya.

Disinggung soal pengakuannya, yang sudah berpengalaman di bidang tambang, telah terungkap. Bahwa proyek di Morowali Sulawesi Tengah merupakan proyek pertama, setelah PT MPM didirikan pada Juli 2019, sedangkan, proyek yang saat ini disoal, dikerjakan Oktober 2019.

“Lalu dasar apa anda bisa menentukan hitungan nilai dalam RAB yang anda susun. Sedangkan anda mengaku hanya sebagai lulusan sarjana teknik mesin,” heran JPU Sabetania.

Selain itu, terdakwa juga mengakui adanya target hasil tambang sebesar 100.000 metrik/ton yang dituangkan dalam kesepakatan antar pihak. Namun, ia menilai bahwa hal itu bukan menjadi kewajiban yang harus ia dapatkan, hanya menjadi tujuan hasil.
“Walaupun kenyataannya tidak mampu, tapi tidak ada penalti,” singkatnya.

Soal Hance Wongkar, terdakwa mengaku kantornya satu gedung dengan kantor milik Hance Wongkar. Kendati ia mengaku masih ada hubungan keluarga.
“Ada..tapi saya tidak pernah menyampaikan secara langsung Hance Wongkar adalah keluarga saya, mungkin mereka yang mempersepsikan,” jawabnya.

Usai sidang, jaksa Novan mengatakan bahwa pada awal sidang, terdakwa telah mencabut seluruh keterangan yang pernah terdakwa sampaikan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dikepolisian.

“Jelas, pengakuan terdakwa terkait penggunaan dana diluar peruntukan RAB yang sebelumnya telah ditentukan, sehingga dampaknya membuat proyek infrastruktur tersebut tidak bisa terselesaikan, yang saat ini menjadi persoalan,” ujarnya.

Lanjut JPU, ulah terdakwa dinilai telah memenuhi unsur dalam pasal 368 KUHPidana yang dijeratkan.
“Menjadi bagian keadaan palsu dari unsur penipuan. Bahkan bisa juga diformulasikan sebagai bagian dari tindak pidana penggelapan, karena ia menerima dana tapi tidak digunakan sebagaimana mestinya alias diluar ketentuan,” beber JPU.

Disinggung soal pengakuan terdakwa bahwa hal itu ia lakukan karena desakan dari pelapor dan Gentha untuk segera mendapatkan hasil tambang, JPU menegaskan jawaban itu merupakan jawaban sepihak dari terdakwa.
“Karena terdakwa sendiri tidak pernah mengajukan saksi meringankan guna mendukung peryataannya. Bahkan sebaliknya, saksi yang diajukan JPU seluruhnya memberatkan posisi terdakwa. Untuk itu kami berkesimpulan semua pasal yang kami dakwakan unsur-unsurnya terpenuhi,” tambah jaksa.

Terpisah, Malvin Lim, penasehat hukum terdakwa saat dikonfirmasi mengakui bahwa keterangan terdakwa menurut KUHAP memang tidak ada nilainya.
“(Terdakwa) berbohong pun boleh. Namun keterangan terdakwa juga penting, karena menurut pasal 184 keterangan terdakwa merupakan sebagai satu alat bukti. Apa yang disampaikan terdakwa dalam persidangan, biar Majelis Hakim yang menilai ada persesuaian atau tidak dengan keterangan saksi-saksi yang lain,” ujarnya.

Seperti yang tertuang dalam dakwaan, terdakwa Christian Halim menyanggupi melakukan pekerjaan penambangan biji nikel yang berlokasi di Desa Ganda-Ganda Kecamatan Petasia Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah.

Kepada pelapor Christeven Mergonoto (pemodal) dan saksi Pangestu Hari Kosasih, terdakwa menjanjikan untuk menghasilkan tambang nikel 100.000 matrik/ton setiap bulannya dengan catatan harus dibangun infrastruktur yang membutuhkan dana sekitar 20,5 Milyard.

Hal lainnya, terdakwa mengaku sebagai keluarga dari Hance Wongkar kontraktor alat berat di Sulawesi Tengah yang akan membantu menyediakan alat berat apabila penambangan berjalan. Padahal, masih menurut dakwaan, belakangan diketahui terdakwa tidak memiliki hubungan dengan orang yang disebut.

Dana sebesar 20,5 Milyard yang diminta terdakwa telah dikucurkan. Namun janji tinggal janji, terdakwa tidak dapat memenuhi kewajibannya.

Bahkan menurut perhitungan ahli ITS, terdapat selisih anggaran sebesar 9,3 Milyard terhadap hasil proyek yang dikerjakan terdakwa.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat pasal 378 KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun. MET.