Connect with us

Hukrim

BB 4,3 Gram Ganja, Dennis Kurniawan Dijerat Pasal 114 , 111 , Dipersidangan Jaksa Sampaikan Ada Assessment.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang perkara ganja seberat 4,3 gram yang melibatkan Dennis Kurniawan bin Suwito sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Rabu (31/3/2021).

Di persidangan Suparlan selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, dalam dakwaannya, menjerat terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 114 ayat (1) , 111 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Sesi selanjutnya, JPU hadirkan 2 saksi dari kepolisian yang melakukan penangkapan terdakwa. Adapun, kedua saksi yakni, Agus Purwanto dan Oky Arys.

Dalam keterangannya dipersidangan, Oky Arys menyampaikan, pada medio 3 Desember melakukan penangkapan terhadap terdakwa di perumahan Permata Tropodo Regency, Sidoarjo.

Penangkapan terpaksa dilakukan lantaran, hasil dari pengembangan dan saat dilakukan penggeledahan ditemukan ganja sintetis seberat 4,3 gram dan 1 linting ganja. Selain itu, hasil dari pemeriksaan test urine terdakwa dinyatakan positif sedangkan, pengakuan terdakwa ganja sebanyak 4,3 gram guna stok pemakaian sendiri.

Saksi menambahkan, saat pemeriksaan apa terdakwa dilakukan assessment ? ” Untuk assessment bagi terdakwa saksi mengatakan kurang tahu ,” ucapnya.

Usai saksi memberikan keterangannya, Ni Made Purnami Selaku, Majelis Hakim memberi kesempatan guna terdakwa sampaikan tanggapannya. Dikesempatan tersebut, terdakwa mengamini keterangan saksi.

Sesi pun berlanjut, dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Melalui, agenda pemeriksaan terdakwa ganja diakui miliknya dan untuk dikonsumsi sendiri serta tahu bahwa ganja adalah dilarang oleh negara.

Masih menurutnya, ganja dibeli dari temannya dan BB sebanyak 4,3 gram sengaja disimpan untuk stok pemakaian.

Sebelum sidang berakhir, JPU menanyakan apakah terdakwa tahu di assessment oleh, BNN terpadu ? ” Ya, saya tahu ,” paparnya.

Diujung persidangan, JPU dalam waktu sepekan kedepan akan melakukan penuntutan.                                      MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hukrim

Ketua DIHPA Indonesia, M.Sholehuddin Sebut, RJ Harus Diperkuat Undang-Undang Guna Eliminir Permainan Permainan

Published

on

Jagad Warta – Surabaya, Penerapan Restorative Justice (RJ), baru-baru ini, digalakkan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, dalam perkara tindak pidana umum, penyalahgunaan narkoba menuai banyak kritikan.

Salah satu kritikan, disampaikan, oleh, Ketua Perhimpunan Dosen Ilmu Hukum Pidana (DIHPA) Indonesia, M.Sholehuddin.

Adapun, yang disampaikan, M Sholehuddin, yaitu, dari aspek pengembangan hukum pidana, RJ ini bagus untuk dilembagakan.

Namun, harus benar-benar dalam kebijakan legislasi (legislation policy) diatur supaya ada payung hukumnya yang kuat.

Dalam hal payung hukum, yang dimaksud, M. Sholehuddin, yakni, Undang-Undang.

Penerapan RJ, menuai, pro dan kontra lantaran, status dasar hukumnya, sementara ini hanya pada Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perpol) dan Peraturan Jaksa Agung (Perja).

Bahkan, penerapan RJ ini, sudah masuk dalam kasus tindak pidana narkotika.

Terbaru, penerapan RJ oleh, pihak Kejati Jatim, dalam kasus narkotika dengan tersangka PE asal Trenggalek, proses hukumnya, seharusnya, bisa sampai di Pengadilan namun, harus berakhir dengan penerapan RJ.

Sehingga, PE hanya menjalani rehabilitasi di Pusat Therapy dan Rehabilitasi NAPZA Mitra Adhyaksa Pemprov Jatim di Rumah Sakit Jiwa, Jalan. Menur Surabaya, pada Kamis (4/8/2022).

Adanya RJ ini, masih menurut M.Sholehuddin, menjelaskan, dari aspek pengembangan hukum pidana.

RJ ini, bagus untuk dilembagakan dan harus benar-benar dalam kebijakan legislasi (legislation policy), diatur supaya, ada payung hukumnya yang kuat, dalam hal ini Undang-Undang.

Hal tersebut, dianggap perlu, guna meng-eliminir ” permainan – permainan”.

” RJ ini harus dibentuk dengan cara atau melalui Undang-Undang sehingga, menjadi kuat ,” terangnya.

M.Sholehuddin, menambahkan, berkaca dari hukum pidana, yang berasas legalitas, dimana tidak ada satu perbuatan yang dipidana kecuali perbuatan itu sudah diatur terlebih dahulu di dalam suatu peraturan perundang-undangan pidana.

” RJ ini masih ditingkat, Perpol dan Perja, sehingga tidak kuat juga ,” imbuhnya.

Kalau nanti dipersoalkan, aturan Kepolisian apalagi dalam konteks sistem peradilan pidana asas legalitas ketat. RJ ini adalah pengembangan yang umum, sehingga perlu didasarkan oleh, suatu Undang-Undang.

Dengan adanya RJ ini, bisa saja mengeliminir penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh oknum, karena itu harus dimasukkan dalam Undang-Undang.

M.Sholehuddin, berharap, kedepannya, harus ada kebijakan legislasi jadi pembentuk Undang-Undang ini harus me-normatifkan terkait RJ.

Sehingga ada dasar hukum yang kuat, tujuannya, untuk mengeleminasi pelanggaran-pelanggaran oleh oknum-oknum.

Ia menegaskan, sementara ini RJ, status dasar hukumnya, hanya Perpol dan Perja.

Kedepannya, pembentuk Undang-Undang ini, harus merespon dan harus pro aktif agar segera dibuat sebagai suatu Undang-Undang.

RJ ini sudah harus ditetapkan, untuk hukum pidana. Sebab, menurutnya, di dalam perkembangan hukum pidana kontemporer ini memang memerlukan desentralisasi pemidanaan.

Artinya, tidak semua kekuasaan dan kewenangan untuk mempidana dan pemidanaan itu harus diserahkan ke pengadilan.

Jadi harus ada desentralisasi, sebagian kewenangannya, diserahkan kepada penegak hukum yang utama, ditingkat penyidikan, kepolisian penuntutan.

Kewenangan terkait pidana dan pemidanaan dengan syarat-syarat tertentu. Hukum pidana kontemporer memerlukan disentralisasi pemidanaan.

M.Sholehuddin, mengaku, sebenarnya, RJ ini sudah ada. Hanya saja pembentuk Undang-Undang berhenti di Undang-Undang sistem peradilan pidana anak, jadi untuk anak.

Sekarang untuk dewasa dan umum mestinya, harus segera ditindaklanjuti dengan membuat Undang-Undang.

” Mestinya, pembentuk Undang-Undang ini malu, kok !, didahului Polisi dan Kejaksaan. Ini tujuannya, baik dan aturannya di Perja dan Perpol tentang RJ itu kan sudah jelas. Tapi tidak semua pidana itu bisa di RJ kan,” pungkasnya.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending