Connect with us

Hukrim

Diduga, 2 Dari 4 Saksi Adalah Boneka David Handoko.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, bagi David Handoko dalam sangkaan penipuan yang bermodus perumahan fiktif kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, dengan agenda mendengar beberapa saksi pada Senin (29/3/2021).

Adapun saksi yang dihadirkan Winarko selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Tinggi Jatim, 2 diantaranya, diduga secara tak langsung, adalah boneka terdakwa.

Melalui keterangan keduanya, yakni, Dedy Adrianto selaku, komisaris PT.Alfa Graha Sentosa (AGS) plus tupoksinya serabutan.

Hal lainnya, yang menggelitik pengunjung sidang, saksi sebagai komisaris tidak tahu tiap tahun ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Lebih, geli lagi, dihadapan Majelis Hakim ia punya saham satu persen di PT.AGS namun, ia lupa besaran nominal sahamnya satu persen berapa?.

Selanjutnya, Sony Handoko meski sebagai kakak kandung terdakwa ia getol guna sampaikan keterangan sebagai saksi.

Keterangan yang disampaikan yakni, Anna (korban) mengatakan, kepadanya kalau terdakwa memiliki tanggungan. Sisi lain, terdakwa mengatakan, tidak ada tanggungan kepada korban.

Sayangnya, Majelis Hakim tidak percaya begitu saja atas keterangan saksi, tatkala setahu saksi apa pernah melihat atau ditunjukkan terdakwa bukti pengembalian kepada korban?

Atas pertanyaan Majelis Hakim saksi dengan enteng mengatakan, di beritahu terdakwa secara lisan.

Berdasarkan keterangan tersebut, Majelis Hakim, mengingatkan saksi atas keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di kepolisian, bahwa saksi menyatakan, uang Anna dan Yakob Prayogo ( korban) belum dikembalikan namun, di persidangan saksi mengatakan, terdakwa sudah mengembalikan uang korban.

Dua keterangan yang kontradiksi memantik Widiarti selaku, Majelis Hakim mempertegas saksi keterangan yang dianggapnya benar mana?.
” Saksi keterangan yang benar di persidangan atau dalam BAP ? “,  tanya Majelis Hakim.

Ia pun, memilih keterangan dalam BAP yang dianggapnya benar sebagai jawaban dari pertanyaan Majelis Hakim.

Keterangan lainnya, saksi meyakini, perpindahan dana dari PT.AGS ke PT. Handoko Putra Jaya (HPJ) adalah uang perusahaan bukan uang Anna atau Yakob Prayogo (korban)

Secara detail, saksi memaparkan, perpindahan uang perusahaan ke perusahaan yang lain adalah skenarionya.
” Sejak awal, sebelum ada Anna, hal ini kerap terjadi. Saya menyebutnya, mutasi internal dan ia adalah skenarionya”, bebernya.

Masih menurutnya, ia terpaksa melakukan skenario berupa perpindahan dana atau mutasi internal lantaran, mendapat arahan dari pihak Bank.

Lebih lanjut, saat ditanya apakah mengenal Yacob. Saksi tidak dapat mengelak alias mengamini bahwa mengenal Yacob serta tahu Yacob mentransfer dana 2,5 Milyard ke rekening PT. AGS.

Sesi berikutnya, Andri, ahli akuntan publik independen dalam keterangannya ia menerangkan,  ia diminta bantuannya oleh, penyidik Polda Jatim, untuk mengaudit rekening pelapor, terlapor dan PT. AGS serta PT. HPJ.

Melalui, audit yang kami lakukan, ada aliran dana yang masuk dari Anna dan Yakob ke PT. AGS, David Handoko dan PT. HPJ sebesar 50 Milyard.

Sedangkan dari PT. AGS, David Handoko dan PT. HPJ ke Anna ada lebih kurang 24 Milyard sehingga yang belum dikembalikan sebesar lebih kurang  25 Milyard.

Ia menambahkan, audit berdasarkan dari bukti Slip Setoran, rekening koran.
“Saya tidak berani meyakini jika tidak ada bukti yang dilampirkan, seperti slip setoran dan rekening koran yang diaudit “,imbuhnya.

Atas keterangan Andri, terdakwa David Handoko merasa keberatan.” Saya keberatan Yang Mulia,” ujar David.

Ia mengaku, jika ada cek yang dicairkan tetapi tidak dapat dibukukan dalam rekening koran.

Usai sidang, pengacara David, Yudi Prabowo keberatan dengan kesaksian Sony. Menurutnya, terdakwa tidak pernah memerintahkan Sony untuk melakukan mutasi internal.
” Mutasi itu atas inisiatif Sony sendiri. Saksi itu yang mengatur sendiri. Dia ingin membela adiknya, tetapi tidak ngerti aturan hukum “, pungkasnya.                 MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending