Connect with us

Hukrim

Saksi Korban Sebut, David Handoko Hanya Beri Cek Kosong ” Saldo Tidak Mencukupi “.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Perkara dugaan investasi perumahan fiktif yang melibatkan David Handoko sebagai terdakwa ternyata hanya bermodalkan cek kosong ” saldo tidak mencukupi ” sehingga Yakob Prayogo merugi 25 Milyard.

Sidang lanjutan, atas sangkaan  sebagaimana pasal 378 yang dijeratkan terhadap terdakwa kembali bergulir dengan agenda mendengar keterangan saksi korban di ruang Garuda Pengadilan Negeri Surabaya,pada Senin (22/3/2021).

Dalam persidangan, Yakob Prayogo sebagai saksi korban mengatakan, awalnya ia dikenalkan kepada terdakwa oleh kakaknya, Anna Prayogo, saat di kota Malang. Dari perkenalan itu, Yakob berkunjung di kantor terdakwa.
” Kantor terdakwa di Ruko RMI jalan Ngagel Jaya Selatan Blok J4-3A Surabaya, ada tulisannya PT. Handoko Putra Jaya “, ungkapnya.

Saat berkunjung itu, Yakob mengaku melihat banyak sekali foto terdakwa dengan petinggi-petinggi tentara dan terdakwa menyampaikan bahwa bukan sembarang orang bisa berfoto dengan petinggi tentara tersebut.
” Terdakwa mengaku, ada proyek di Armatim, Lalu saya dibilangi, uangmu titipkan ke saya, putarannya cepat “, bebernya.

Hal lainnya, lantaran ia percaya setelah melihat foto-foto terdakwa bersama petinggi tentara sehingga ia tertarik ajakan terdakwa untuk kerjasama.

Akhirnya, saksi diminta mentransfer uang sebesar 3 Milyard ke PT. Alfa Graha Sentosa (perusahaan kerjasama bisnis perumahan di Sukodono Sidoarjo).
” Bentuk kerjasama saksi berupa uang mentransfer uang 3 Milyard maka terdakwa meyakinkan saksi dengan memberi beberapa lembar cek sebagai jaminan serta janji terdakwa akan memberi saksi  keuntungan 2,5 persen “, paparnya.

Masih menurut saksi, sayangnya, berapa cek tatkala akan dicairkan saksi terdakwa melarangnya.
” Jangan dulu, belum ada uangnya “, ujar saksi menirukan terdakwa.

Ia menambahkan, setelah investasi 3 Milyard ia tidak pernah menerima keuntungan seperti yang dijanjikan terdakwa.
” Di saat saksi  butuh uang ia menagih terdakwa namun, terdakwa bilang belum ada uangnya “, imbuhnya.

Lebih lanjut, hingga beberapa cek menjadi kadaluarsa akhirnya ia bersama Anna datang ke rumah terdakwa.

Di kesempatan tersebut, ia diberi cek kosong sebagai ganti cek yang sudah kadaluarsa. Cek yang diberi terdakwa ada tanda tangannya, tetapi tidak ada tanggal sama nominalnya.

Lagi-lagi saksi mesti gigit jari saat beberapa cek dicairkan ke Bank dan cek ditolak karena dana tidak mencukupi.

Saksi kerap menagih terdakwa kurang lebih 2 tahunan tapi modal dan keuntungan yang dijanjikan terdakwa tidak ada. Bahkan, saksi pernah melakukan somasi dua kali dan terdakwa menjawab tidak mau bayar.

Usai sidang, Yudi Wibowo Sukinto saat dikonfirmasi usai sidang, mengatakan, bahwa uang sebesar 3 Milyard itu ditransfer ke rekening PT. Alfa Graha Sentosa (AGS).

Saksi tadi mengatakan, mentransfer ke PT. AGS. Lha kan kakaknya yang jadi direktur di PT itu.

Sedangkan, terkait apakah ada transfer ke PT. Handoko Putra Jaya, setelah masuk ke rekening PT. AGS, Yudi mengatakan itu perkara lain.
” Lain itu lain. Kita kan membicarakanan PT. AGS ke Anna “, pungkasnya.              MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending