Connect with us

Hukrim

Investasi Tambang Nikel,Diduga Fiktif Rugikan Korban 63 Milyard, Adakah Peran Turut Serta?.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Perkara dugaan investasi bodong yang terbingkai dalam kerjasama beberapa perusahaan pertambangan nikel hingga, memicu Soewondo Basuki merugi 75 Milyard,  melibatkan Venansius Niek Widodo sebagai terdakwa, adakah peran yang turut serta ?.

Dipersidangan yang beragenda mendengar keterangan saksi (korban) tampak Yusuf Akbar selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, menghadirkan Soewondo Basuki bersama istri guna sampaikan keterangan.

Adapun, keterangan yang disampaikan, istri Soewondo Basuki (korban) yaitu, saya tiap malam tidak bisa tidur bagaimana mau jual aset semua sudah dijaminkan. Saya minta perlindungan dan bantuan pada saudara-saudara untuk bayar bunga kalau tidak rumah saya disita, rumah saya jaminkan, semua saya jaminkan, saya tidak punya nafkah.

Semua bohong, fiktif, semua seperti asli, semua draft ada nomornya, ada supplier nya,semua yang diceritakan seperti asli.
” Saya menjadi teman baik di grup semua ikut investasi dan saya waktu ke Eropa, mereka (teman-teman yang ikut investasi,Rudi, Hermanto) istri-istrinya semua beli tas, barang mewah seperti tidak pakai uang”, bebernya.

Dalam investasi nikel, ia belum menerima sama sekali, ia diajak suami untuk mendengarkan agar percaya investasi. Saya hanya saling percaya.

Majelis Hakim, ingatkan Penasehat Hukum terdakwa guna membuktikan investasi yang kedua dimana saksi merugi 75 Milyard.

Sedangkan, Soewondo Basuki, menyampaikan, yang membuat saksi tergerak untuk bertemu terdakwa adalah katanya semua teman-teman ikut investasi dan ia tertarik.

Dalam pertemuan yang dibahas investasi nikel setelahnya, saksi diajak meninjau lokasi tambang dan ada aktivitas.

Masih menurutnya, saksi dihubungi Hermanto dengan menyampaikan, ini ada bisnis bagus sehingga saksi diajak investasi.

Kemudian korban bersama Hermanto dan Rudi Efendi bersepakat untuk mendirikan perusahaan yang bernama PT. Mentari Mitra Manunggal (MMT), yang rencananya akan bergerak dalam bidang investasi pertambangan nikel yang ada di Kabaena, Kendari, Sulawesi tenggara.
” Pak Venan mengatakan bahwa PT. MMT akan bekerjasama dengan PT. Rockstone Mining Indonesia (RMI), milik Ishak,” ujarnya.

Setelah itu, Hermanto menyuruh korban mentransfer uang ke rekening BCA milik PT. RMI, yang sebelumnya rekening itu dibuat atas suruhan terdakwa.
“Lalu saya melakukan beberapa transfer hingga total sebesar Rp. 75 Milyard “, cetusnya.

Setelah melakukan transfer itu, masih kata korban, ia tidak mendapatkan keuntungan (profit) tiap dua bulan seperti yang dijanjikan oleh terdakwa. Korban lalu menagih terdakwa, Rudi, dan Hermanto.

Ia menambahkan, memang ada pengembalian dari Venansius 2,5 M, Rudi 5,5 M dan Hermanto 3,5 M sehingga total kerugian saya 63 Milyard.
” Setelah itu tidak ada kelanjutannya, saat ditagih, pak Venan tidak dapat dihubungi bahkan menghilang “, ucapnya.

Atas keterangan korban, terdakwa menanggapinya dengan mengatakan bahwa dia adalah korban dari Hermanto.
“Saya ini juga korban dari Hermanto. Nanti saya buktikan “, timpal terdakwa.

Secara terpisah, Nurmawan Wahyudi, Penasehat Hukum terdakwa, saat ditemui mengatakan, bahwa ada dua hal yang berbeda dalam kasus ini.

Menurutnya, yaitu, investasi pribadi dan investasi nikel ore.
“Ini investasi pribadi yang uangnya dibawa oleh Hermanto. Klien kami ini diperalat oleh Hermanto. Bukan hanya 63 milyar, uang klien kami juga dibawa 106 milyar oleh Hermanto yang saat itu jadi keuangan. Semua cek giro dia yang bawa,” bebernya.

Sementara itu, Yusuf Akbar selaku,Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, saat dikonfirmasi terkait tidak ditahannya terdakwa mengatakan terdakwa Venansius ditahan dalam perkara lain.
“Dalam perkara lain waktu tahap 2, Venansius ditahan. Kalau sekarang tidak ditahan, itu bukan kewenangan saya menjawabnya “, pungkasnya.            MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending