Investasi Tambang Nikel,Diduga Fiktif Rugikan Korban 63 Milyard, Adakah Peran Turut Serta?.

174

Surabaya-basudewanews.com, Perkara dugaan investasi bodong yang terbingkai dalam kerjasama beberapa perusahaan pertambangan nikel hingga, memicu Soewondo Basuki merugi 75 Milyard,  melibatkan Venansius Niek Widodo sebagai terdakwa, adakah peran yang turut serta ?.

Dipersidangan yang beragenda mendengar keterangan saksi (korban) tampak Yusuf Akbar selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, menghadirkan Soewondo Basuki bersama istri guna sampaikan keterangan.

Adapun, keterangan yang disampaikan, istri Soewondo Basuki (korban) yaitu, saya tiap malam tidak bisa tidur bagaimana mau jual aset semua sudah dijaminkan. Saya minta perlindungan dan bantuan pada saudara-saudara untuk bayar bunga kalau tidak rumah saya disita, rumah saya jaminkan, semua saya jaminkan, saya tidak punya nafkah.

Semua bohong, fiktif, semua seperti asli, semua draft ada nomornya, ada supplier nya,semua yang diceritakan seperti asli.
” Saya menjadi teman baik di grup semua ikut investasi dan saya waktu ke Eropa, mereka (teman-teman yang ikut investasi,Rudi, Hermanto) istri-istrinya semua beli tas, barang mewah seperti tidak pakai uang”, bebernya.

Dalam investasi nikel, ia belum menerima sama sekali, ia diajak suami untuk mendengarkan agar percaya investasi. Saya hanya saling percaya.

Majelis Hakim, ingatkan Penasehat Hukum terdakwa guna membuktikan investasi yang kedua dimana saksi merugi 75 Milyard.

Sedangkan, Soewondo Basuki, menyampaikan, yang membuat saksi tergerak untuk bertemu terdakwa adalah katanya semua teman-teman ikut investasi dan ia tertarik.

Dalam pertemuan yang dibahas investasi nikel setelahnya, saksi diajak meninjau lokasi tambang dan ada aktivitas.

Masih menurutnya, saksi dihubungi Hermanto dengan menyampaikan, ini ada bisnis bagus sehingga saksi diajak investasi.

Kemudian korban bersama Hermanto dan Rudi Efendi bersepakat untuk mendirikan perusahaan yang bernama PT. Mentari Mitra Manunggal (MMT), yang rencananya akan bergerak dalam bidang investasi pertambangan nikel yang ada di Kabaena, Kendari, Sulawesi tenggara.
” Pak Venan mengatakan bahwa PT. MMT akan bekerjasama dengan PT. Rockstone Mining Indonesia (RMI), milik Ishak,” ujarnya.

Setelah itu, Hermanto menyuruh korban mentransfer uang ke rekening BCA milik PT. RMI, yang sebelumnya rekening itu dibuat atas suruhan terdakwa.
“Lalu saya melakukan beberapa transfer hingga total sebesar Rp. 75 Milyard “, cetusnya.

Setelah melakukan transfer itu, masih kata korban, ia tidak mendapatkan keuntungan (profit) tiap dua bulan seperti yang dijanjikan oleh terdakwa. Korban lalu menagih terdakwa, Rudi, dan Hermanto.

Ia menambahkan, memang ada pengembalian dari Venansius 2,5 M, Rudi 5,5 M dan Hermanto 3,5 M sehingga total kerugian saya 63 Milyard.
” Setelah itu tidak ada kelanjutannya, saat ditagih, pak Venan tidak dapat dihubungi bahkan menghilang “, ucapnya.

Atas keterangan korban, terdakwa menanggapinya dengan mengatakan bahwa dia adalah korban dari Hermanto.
“Saya ini juga korban dari Hermanto. Nanti saya buktikan “, timpal terdakwa.

Secara terpisah, Nurmawan Wahyudi, Penasehat Hukum terdakwa, saat ditemui mengatakan, bahwa ada dua hal yang berbeda dalam kasus ini.

Menurutnya, yaitu, investasi pribadi dan investasi nikel ore.
“Ini investasi pribadi yang uangnya dibawa oleh Hermanto. Klien kami ini diperalat oleh Hermanto. Bukan hanya 63 milyar, uang klien kami juga dibawa 106 milyar oleh Hermanto yang saat itu jadi keuangan. Semua cek giro dia yang bawa,” bebernya.

Sementara itu, Yusuf Akbar selaku,Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, saat dikonfirmasi terkait tidak ditahannya terdakwa mengatakan terdakwa Venansius ditahan dalam perkara lain.
“Dalam perkara lain waktu tahap 2, Venansius ditahan. Kalau sekarang tidak ditahan, itu bukan kewenangan saya menjawabnya “, pungkasnya.            MET.