Hutang Piutang Beralih Ke Akta Jual Beli Kini, Di Meja Hijau Gugatan Perdata.

66

Mojokerto-basudewanews.com, Perkara hutang piutang antara Tawar warga Dusun Karangnongko Desa Sumberkarang Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, Jatim, dengan H.Lilik berlangsung pada 10 tahun yang lampau berbuah ke meja hijau.

Ikhwal perkara bermula, pada tahun 2000 Tawar memiliki hutang sebesar 13 juta terhadap H.Lilik Nafidah. Kini perkara muncul di Pengadilan Negeri Mojokerto, Tawar digugat oleh, H.Lilik Nafidah.
” Saya tidak pernah mengagunkan SHM kepada H.Lilik Nafidah “, cetus Tawar kepada basudewanews.com.

Atas munculnya, perkara gugatan perdata di Pengadilan Negeri Mojokerto, terkait tanah miliknya digugat oleh, H.Lilik Nafidah (yang tak lain pemberi pinjaman) membuatnya kaget.
” Saya kaget kok tiba-tiba ada panggilan dari Pengadilan “, kata Tawar.

Pada Medio Kamis (18/3/2021), sidang gugatan perdata bergulir dengan agenda penggugat ajukan bukti-bukti surat serta mendengar keterangan para saksi yang dihadirkan penggugat (H.Lilik).

Adapun, para saksi yang dihadirkan penggugat yakni, M.Haris sebagai ketua RT dusun Karangnongko, Riyadi selaku, pembeli lahan sengketa dan Sutomo.

M.Harris mengawali keterangannya, berupa,
Ia selaku ketua RT Dusun Karangnongko pada saat itu.

Hal lainnya, bahwa ia ikut menanda tangani surat keterangan waris sebagai saksi. Penandatanganan di lakukan di rumah sekretaris desa, bukan di kantor Desa, waktu itu pelaksanaan sore hari.

Pada saat penanda-tanganan surat keterangan waris, para ahli waris dari Tawar, tidak berkumpul secara bersamaan.
” Ia yang menjabat sebagai ketua RT dan ikut menandatangani surat keterangan waris di rumah carik, anak-anaknya Tawar pada saat penandatanganan tidak lengkap “, bebernya.

Saksi secara jelas, menyatakan, ia tidak tahu status tanah yang dimaksud dalam perkara sengketa.

Saksi berikutnya, Riyadi dalam keterangannya, bahwa ia dengan H.Lilik (penggugat) tidak ada hubungan darah.

Melalui pemaparannya, rumah dan pekarangan yang di tempati saat ini tidak beli namun, hanya di suruh menempati oleh, H Lilik (penggugat) lantaran ada hutang budi.
” Tanah yang di bangun pada tahun 2009, itu bukan rumah saya, melainkan rumahnya H. Lilik “, bebernya.

Saksi sampaikan, cerita H.Lilik yaitu, Tawar punya hutang pada H. Lilik (penggugat) sebesar 8 juta. Selang berikutnya, Tawar minta tambahan 2 juta, dengan jaminan rumah yang saya huni itu “, imbuhnya.

Sedangkan, Sugeng Hari Kartono selaku, Penasehat Hukum Tawar sebagai tergugat mengatakan, klien kami tidak pernah merasa menjual asetnya pada H.Lilik.
Namun, mengapa terbit AJB dari H.Lilik ke Tawar?,  dasarnya apa?.

Masih menurutnya, berdasarkan keterangan saksi di persidangan, ” antara Tawar (tergugat) dan H. Lilik ( penggugat) adalah permasalahan hutang piutang bukan jual beli “, jelasnya.

Hal lainnya, andaikan terjadi proses jual beli di Pejabat Pembuat Akta (PPAT), kenapa Sertifikat Hak Milik (SHM) sampai saat ini masih di pegang Tawar dan hingga perkara ini ke meja persidangan gugatan perdata SHM masih menjadi agunan di Bank PNM “, pungkasnya.       MET.