Connect with us

Hukrim

Hutang Piutang Beralih Ke Akta Jual Beli Kini, Di Meja Hijau Gugatan Perdata.

Published

on

Mojokerto-basudewanews.com, Perkara hutang piutang antara Tawar warga Dusun Karangnongko Desa Sumberkarang Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, Jatim, dengan H.Lilik berlangsung pada 10 tahun yang lampau berbuah ke meja hijau.

Ikhwal perkara bermula, pada tahun 2000 Tawar memiliki hutang sebesar 13 juta terhadap H.Lilik Nafidah. Kini perkara muncul di Pengadilan Negeri Mojokerto, Tawar digugat oleh, H.Lilik Nafidah.
” Saya tidak pernah mengagunkan SHM kepada H.Lilik Nafidah “, cetus Tawar kepada basudewanews.com.

Atas munculnya, perkara gugatan perdata di Pengadilan Negeri Mojokerto, terkait tanah miliknya digugat oleh, H.Lilik Nafidah (yang tak lain pemberi pinjaman) membuatnya kaget.
” Saya kaget kok tiba-tiba ada panggilan dari Pengadilan “, kata Tawar.

Pada Medio Kamis (18/3/2021), sidang gugatan perdata bergulir dengan agenda penggugat ajukan bukti-bukti surat serta mendengar keterangan para saksi yang dihadirkan penggugat (H.Lilik).

Adapun, para saksi yang dihadirkan penggugat yakni, M.Haris sebagai ketua RT dusun Karangnongko, Riyadi selaku, pembeli lahan sengketa dan Sutomo.

M.Harris mengawali keterangannya, berupa,
Ia selaku ketua RT Dusun Karangnongko pada saat itu.

Hal lainnya, bahwa ia ikut menanda tangani surat keterangan waris sebagai saksi. Penandatanganan di lakukan di rumah sekretaris desa, bukan di kantor Desa, waktu itu pelaksanaan sore hari.

Pada saat penanda-tanganan surat keterangan waris, para ahli waris dari Tawar, tidak berkumpul secara bersamaan.
” Ia yang menjabat sebagai ketua RT dan ikut menandatangani surat keterangan waris di rumah carik, anak-anaknya Tawar pada saat penandatanganan tidak lengkap “, bebernya.

Saksi secara jelas, menyatakan, ia tidak tahu status tanah yang dimaksud dalam perkara sengketa.

Saksi berikutnya, Riyadi dalam keterangannya, bahwa ia dengan H.Lilik (penggugat) tidak ada hubungan darah.

Melalui pemaparannya, rumah dan pekarangan yang di tempati saat ini tidak beli namun, hanya di suruh menempati oleh, H Lilik (penggugat) lantaran ada hutang budi.
” Tanah yang di bangun pada tahun 2009, itu bukan rumah saya, melainkan rumahnya H. Lilik “, bebernya.

Saksi sampaikan, cerita H.Lilik yaitu, Tawar punya hutang pada H. Lilik (penggugat) sebesar 8 juta. Selang berikutnya, Tawar minta tambahan 2 juta, dengan jaminan rumah yang saya huni itu “, imbuhnya.

Sedangkan, Sugeng Hari Kartono selaku, Penasehat Hukum Tawar sebagai tergugat mengatakan, klien kami tidak pernah merasa menjual asetnya pada H.Lilik.
Namun, mengapa terbit AJB dari H.Lilik ke Tawar?,  dasarnya apa?.

Masih menurutnya, berdasarkan keterangan saksi di persidangan, ” antara Tawar (tergugat) dan H. Lilik ( penggugat) adalah permasalahan hutang piutang bukan jual beli “, jelasnya.

Hal lainnya, andaikan terjadi proses jual beli di Pejabat Pembuat Akta (PPAT), kenapa Sertifikat Hak Milik (SHM) sampai saat ini masih di pegang Tawar dan hingga perkara ini ke meja persidangan gugatan perdata SHM masih menjadi agunan di Bank PNM “, pungkasnya.       MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending