Connect with us

Hukrim

Didakwa Palsukan Surat Rapid Test, 3 Pria Travel Kalimas Baru 190 Perak Surabaya, Diadili.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, M.Roib, Budi Santoso dan Saiful Hidayat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, di Pengadilan Negeri Surabaya. Ketiga pria tersebut, disangkakan telah memalsukan surat keterangan rapid test guna meraup keuntungan secara pribadi. Perbuatan ketiganya sebagaimana diatur dan diancam  pidana dalam pasal 263 ayat (2) KUHP.

Sidang lanjutan, yang beragenda  mendengar keterangan saksi tampak Willy Gede selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, menghadirkan 3 orang saksi namun, salah satu saksi yakni, dokter Nurul sampaikan keterangannya, sebagai saksi secara virtual.

Hal yang mendasari, dokter Nurul sampaikan keterangan secara virtual yakni, mengidap penyakit diabetes dan usianya rentan terpapar Covid19 jika dihadirkan di persidangan.

Adapun yang mengawali sampaikan keterangan yaitu, Lailatul dan Susilowati. Keduanya adalah pekerja puskesmas perak Surabaya, yang kerap membantu dokter Nurul.

Melalui Laila, dalam keterangannya, mengatakan, ia hanya kenal dengan Budi Santoso dan 2 terdakwa lainnya, tidak dikenalnya.

Ia menerangkan, usai bertugas di puskesmas ia kerap dimintai tolong oleh, dokter Nurul guna mengetikan nama para pasien yang datang ke dokter Nurul.
” Ditempat praktek dokter Nurul, ia pernah ketik nama sesuai data pasien yg datang ke puskesmas suratnya pakai kop dokter “, tuturnya.

Selain itu, ia mengenal betul tanda tangan dokter Nurul serta Budi Santoso (terdakwa) adalah perawat di puskesmas bagian poli paru.

Lebih lanjut, dia pernah dimintai tolong guna ketikan surat tanpa sepengetahuan dokter Nurul. Pengakuan saksi, surat rapid tidak pernah diterbitkan oleh,dokter Nurul ( surat rapid test yang menjadi alat bukti ditunjukkan oleh,JPU terhadap saksi).

Keterangan Susilowati hampir sama dengan keterangan yang disampaikan Lailatul (saksi).

Ia menambahkan, pemeriksaan rapid test dilaksanakan sore dan surat rapid test tidak dibuat tertera jam namun hanya cantumkan tanggal, bulan dan tahun.
” Mengenai pasien yang rapid test harus setahu Dokter Nurul. Setelah pemeriksaan  hanya memakan biaya 85 ribu “, imbuhnya.

Sesi selanjutnya, dokter Nurul, menyampaikan, dua jenis surat yang ditunjukan di persidangan secara tegas ia mengatakan, tidak pernah tanda tangan atau keluarkan surat tersebut.

Nurul mengakui, ia sendiri yang melakukan test anti body namun, terkadang juga dilakukan Budi Santoso (terdakwa).
” Langkah seperti ini terpaksa dilakukan karena banyak pasien “, ucapnya.

Menurut dia, tidak pernah lakukan test terhadap pasien yang bernama Naomi maupun mengeluarkan surat hasil tes rapid seperti yang ditunjukkan.

Atas peristiwa ini, dokter Nurul merasa dirugikan dan menyesal telah mempercayakan terhadap Budi Santoso (terdakwa).

Diakhir persidangan, Majelis Hakim memberi kesempatan terhadap ketiga terdakwa guna menanggapi keterangan yang disampaikan para saksi. Dikesempatan yang diberikan, ketiga terdakwa mengamini keterangan para saksi.              MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending