Connect with us

Hukrim

Sekap Dan Aniaya Pacar, Rahadian Diancam Pidana 8 Tahun Penjara.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Rahadian Zulfikry (33), terdakwa dalam kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap korban Anggriani Chintami Ayu Lestari alias Marissa, terancam pidana selama 8 tahun penjara.

Dalam perkara ini, Yusuf Akbar selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, menjerat terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 333 Ayat (1) dan Pasal 351 Ayat (1) KUHPidana.

Dipersidangan, Marissa (korban) dalam keterangannya sebagai saksi menyampaikan, bahwa kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap dirinya terjadi lantaran saat terjadi cekcok. Ia membanting Handphone milik terdakwa saat berada di kamar 2225 Apartement Royal City Loft, Lakarsantri, Surabaya.

“Waktu itu saya banting handphone nya karena saya sudah sangat jengkel telah dibohongi pak hakim. Terdakwa selama ini hanya mengaku-ngaku sebagai direktur BUMD, kenal orang-orang besar (pejabat,red), kenal Kapolda juga ngaku Tim Sukses Gibran. Dia juga sering mengancam saya,” ungkapnya.

Setelah Marissa membanting handphone tersebut, terdakwa akhirnya marah memukul korban hingga mengenai kelopak matanya.

Selanjutnya, terdakwa memukul, korban pun membalasnya dengan melepar akuarium ikan cupang yang ada di dalam kamarnya. Saat dilempar oleh Marissa, terdakwa kabur keluar dan mengunci kamar tersebut dari luar.
Sembari dari luar kamar terdakwa bertanya kenapa kamu banting hp aku?, selang berikutnya terdakwa lebih dulu turun meninggalkan apartemen.

Masih menurut saksi, ” saya shock dengan dia memukuli saya. Lalu saya dikunci dari luar, saya sempat pecahkan balkon dan minta tolong ke sekuriti “, kata Marissa sembari mengusap air matanya.

Setelah memberikan keterangannya kepada majelis hakim, saksi lain yakni sekuriti apartemen, Yusuf mengatakan ada keributan di kamar 2225. Mendengar ada suara tersebut kemudian, Yusuf menghampiri sumber suara.
“Saya masuk ada darah dan pecahan kaca akuarium. Ada bercak darah di dinding koridor. Saat itu sedang patroli di unit 22 itu kok ada keributan suara orang “, ujarnya.

Setelah mengetahui ada keributan ternyata, Marissa dan terdakwa sedang cek-cok. Akan tetapi, terdakwa malah menyuruh Yusuf pergi.
“Katanya itu urusan pribadi, saya diminta pergi. Tapi saya memberikan pesan agar masalah diselesaikan baik-baik “, jelasnya.

Setelah mendengarkan keterangan para saksi, terdakwa mengamini keterangan saksi. Hal yang disanggah terdakwa yaitu, Ia tidak mengunci Marissa di dalam kamar apartemen.
“Iya benar Yang Mulia, saya tidak sengaja menguncinya di kamar. Hanya saja saya kabur takut terlempar kaca akuarium yang dilempar Marissa “, ujar terdakwa.

Diujung persidangan, Dede Suryaman selaku, Majelis Hakim akan melanjutkan persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa pada pekan depan.   MET.

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending