Jaksa Hadirkan Korban Sebagai Saksi Dalam Perkara Yang Melibatkan Christian Halim Sebagai Terdakwa.

131

Surabaya-basudewanews.com, Perkara tindak pidana penipuan dan penggelapan yang disangkakan terhadap Christian Halim (terdakwa) kembali digelar. Sidang sebelumnya, eksepsi terdakwa ditolak seluruhnya, oleh, Tumpal Sagala selaku, Majelis Hakim serta memerintahkan Sabetania selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, agar melanjutkan pemeriksaan perkara.

Dalam persidangan secara Virtual di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Senin (1/3/2021), JPU hadirkan Cristeven Mergonoto (korban) guna sampaikan keterangan sebagai saksi.
Adapun, keterangan yang disampaikan berupa, perkenalannya dengan terdakwa melalui, Pangestu Kosasih.

Dari perkenalan tersebut, terdakwa mengaku, berpengalaman dalam bidang pertambangan serta terdakwa adalah keponakan dari Hence Wongkar, salah satu pelaku tambang ternama di dunia pertambangan.

Selanjutnya, bertiga membicarakan pekerjaan tambang nikel di Morowali. Setelah perbincangan, terdakwa menyanggupi bahwa pekerjaaan tambang Nikel terlebih dulu harus dilakukan pekerjaan pembangunan infrastruktur lalu pekerjaan tambang nikel.
” Pembangunan infrastruktur membutuhkan dana sebesar 20,5 Milyard “, beber korban.

Terdakwa kemudian menyodorkan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) pembangunan infrastruktur dan disetujui oleh, saksi meski terdakwa tidak memiliki sertifikasi pertambangan. Atas permintaan terdakwa maka saksi mengirim uang beberapa kali ke rekening korban hingga sejumlah 20,5 Milyard.
” Transfer dana sebesar 20,5 Milyard ke rekening pribadi atas permintaan terdakwa “, paparnya.

Sayangnya, pembangunan infrastruktur berupa, Jeti berbentuk T yang dijanjikan terdakwa agar bisa memfasilitasi 3 kapal bersandar namun, pembangunan Jeti hanya berbentuk I atau tidak sesuai RAB.

Ia menambahkan, terdakwa justru malah membicarakan biaya pertambangan Nikel sehingga, korban menilai pembangunan infrastruktur telah rampung.
” pembangunan Jeti bentuk I tidak bisa memfasilitasi 3 kapal bersandar serta saksi menganggap pekerjaan infrastruktur telah selesai lantaran, terdakwa membicarakan dana untuk pekerjaan selanjutnya yaitu, tambang nikel “, imbuhnya.

Tak puas hasil kinerja terdakwa atas kesepakatan bertiga, terdakwa diberhentikan kemudian saksi melakukan perhitungan pekerjaan infrastruktur melalui tim Aprasial. Alhasil, dari tim Aprasial mengatakan, pembangunan infrastruktur Jeti bentuk hanya menghabiskan sekitar 6 Milyard.

Dalam laporan di Polda Jatim, saksi disarankan untuk memakai tim asal ITS guna melakukan penghitungan. Melalui perhitungan tim ITS Hasil audit independen  yakni sebesar Rp 11 miliar.

Berdasar audit independen, saksi merugi 9 Milyard, maka terdakwa secara resmi dilaporkan ke Polda Jatim, hingga terdakwa diseret ke meja hijau.

Masih menurutnya, korban ketahui saat datang ke lokasi tambang. Karena kesal,  proyek itu saya nyatakan selesai, meski tanpa berita acara serah terima.
” terdakwa bilang kalau proyek tambang ini tidak mudah lantaran susah karena pengerjaan tambang sangat dalam, bila mendapatkan nikel “, beber saksi.

Hal lainnya, disampaikan saksi, bahwa dari kerjasama telah disepakati pekerjaan penambangan Biji Nikel seluas 38 Hektar di Desa Ganda-Ganda Kecamatan Petasia Kabupaten Morowali. Janji terdakwa area seluas 38 hektare akan menghasilkan tambang nikel 100.000 matrik/ton setiap bulannya.

Dalam perkara ini, JPU menjerat terdakwa sebagaimana dalam pasal 378 KUHP.
MET.