Ibis Hotel Jemursari Surabaya, Fasilitasi Ruang Guna Dongkrak Pangsa Pasar Seni Lukis.

72

Surabaya-basudewanews.com, Ibis Hotel Jemursari Surabaya, beri ruang terhadap beberapa pelukis anak negeri disaat pangsa pasar lagi lesu dampak Pandemi Covid 19.

Ruang yang bertajuk The Spirit Of Rama Shinta resmi dibuka di Ibis Styles Hotel Surabaya pada Selasa (16/2/2021).

Pada sesi peresmian pembukaan, tampak Itong Musicology sang promotor pameran seni lukis mengatakan, pihaknya mencoba mewadahi karya-karya seni lukis dari Bogor,Yogya, Wonogiri, Surabaya,Gresik, Sidoarjo,Kediri,Blitar,Jember, Banyuwangi hingga Bali.
” Sekitar 27 seni lukis dari berbagai daerah turut memamerkan karyanya dengan harapan mendongkrak pasar yang lesu dampak masa Pandemi Covid19 “, ucapnya.

Sesi selanjutnya, Ricky Choen Arifin selaku, General Manager Ibis Styles Surabaya, menyampaikan, saat ini para seni lukis mengalami masa-masa yang sangat sulit.
” Nafas para seni lukis sudah diujung leher berhubung Jawa Timur adalah sentral nya kebudayaan maka Ibis Styles Hotel Surabaya, memberi ruang agar Surabaya dan pada khususnya, Indonesia bisa bangkit dari masa sulit “, pesannya.

Hal tersebut, kata Ricky Choen Arifin, ayo kita bangkitkan kembali seni-seni di Surabaya dan ia siap kapanpun guna mendukung tanpa menunda-nunda.

Sedangkan Tjuk-Tjuk salah satu anggota dewan tingkat kota Surabaya, yang berangkat dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai alat kendaraan politiknya juga hadir di acara tersebut.

Kepada basudewanews.com, Tjuk-Tjuk mengatakan, ia menyambut baik atas kegiatan ini. Bahwa sebuah kesempatan bagi para seni lukis guna mengekspresikan karya-karyanya atau bisa memberi ladang pekerjaan bagi seni lukis di masa pandemi.

Beberapa seniman telah mengalami puasa cukup lama dampak pandemi dan hingga kini masih belum ada tanda-tanda sesuai keinginan. Adanya pameran seni lukis, ia berterima kasih terhadap management Ibis Hotel karena mau memfasilitasi.

Berbicara seni mengingatkan dirinya, seni lainnya, seperti musik dangdut juga mengalami masa-masa sulit sehingga, ia mencoba membantu dengan menghadirkan musik dangdut pada sesi Jambore dangdut.
” Upaya memfasilitasi pemusik dangdut yaitu, berupa mengandeng kerjasama dengan TVRI selama 34 episode. Seni lainnya, yaitu Stand-up comedi juga tak luput dari sasarannya serta mencoba menghidupkan Kartolo cs yang merupakan icon Surabaya “, paparnya.

Disinggung terkait, kebijakan penutupan sarana seni Surabaya, ia mendorong Pemerintah Kota Surabaya, guna membuka sarana seni agar bisa aktif kembali.
” Mengingat Taman Hiburan Rakyat (THR) yang sudah tutup, komisi D pernah memangil Anis selaku, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata atas ekpektasi dibukanya tempat-tempat seni di Surabaya”, bebernya.

Lebih lanjut, kalau Pemerintah Kota Surabaya, menutup satu tempat seni harus bisa membuka 10 tempat seni. Berbicara seni tentang pagelaran ludruk atau yang lain
jika tidak diberi kesempatan guna mengekpresikan jiwa seninya bagaimana mungkin kita memiliki orang-orang yang ahli di bidang seni.

Ia berjanji, akan terus mengkritisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, agar selalu melakukan kegiatan yang pro dengan seniman, ini sebuah Pekerjaan Rumah (PR) bagi kami.                                                                                MET.