Connect with us

Peristiwa

Prahara Keabsahan Anak, Jessica 2 Bulan Tidak Ketemu 2 Anaknya.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Kisah pilu yang dialami Jessica Angelia kesulitan menemui 2 orang anaknya selama 2 bulan lantaran, kedua anaknya diduga dibawa oleh Winson Candra Sanjaya suaminya.

Jalinan rumah tangga antara Jessica Angelia dan Winson yang melangsungkan pernikahan dan tercatat di Vihara, pada medio 2017, kini mengalami prahara rumah tangga dan sudah 2 tahun silam telah berpisah.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun dilapangan, Winson Candra Sanjaya pada Selasa (16/2/2021) jalani persidangan yang diajukan guna penetapan pernikahannya sah tercatat oleh negara.

Sayangnya, dipersidangan Jessica Angelia keberatan atas upaya suaminya yang mengajukan penetapan pernikahannya guna tercatat oleh negara.

Usai persidangan, Jessica Angelia tampak meronta-ronta terhadap Anton salah satu Penasehat Hukum dari Winson Candra Sanjaya agar kedua anaknya bisa ditemui atau mengasuhnya.
” Kemana anak saya, katakan dimana”, pintanya.

Secara terpisah, Jessica Angelia kepada tim basudewanews.com, mengatakan, pada medio 2015. Ia mengenal Winson Candra Sanjaya, sedangkan pada medio 2017 memiliki seorang anak selang berikutnya, Jessica Angelia dan Winson Candra Sanjaya melangsungkan pernikahan di Vihara yang tercatat dalam catatan sipil.

Pada medio 2019 pasangan suami-istri tersebut, memiliki lagi anak yang kedua setelah itu kedua anaknya dibawa kabur.
” Kedua anaknya dibawa Winson hingga kini.
Upaya Jessica Angelia melakukan konfirmasi selalu di ping-pong”, bebernya.

Lebih lanjut, selama 2 bulan terakhir, ia merasa semua akses ketemu anak-anaknya ditutup hingga upaya mediasi tidak ada titik temu.
” Selama ini ia merasa di ping-pong, melalui konfirmasi Winson mengatakan ke Penasehat Hukumnya. Sedangkan, Penasehat Hukumnya saat dikonfirmasi mengatakan ke Winson saja “, ujarnya.

Atas upaya Winson Candra Sanjaya yang mengajukan penetapan pernikahannya di Pengadilan Negeri Surabaya, ia merasa keberatan. Adapun, keberatan Jessica berdasarkan, bahwa keduanya sudah berpisah.

Disisi lain, Anton selaku, Penasehat Hukum Winson Candra Sanjaya saat dikonfirmasi mengatakan, ” jangan sekarang nanti pihak kami akan adakan jumpa pers”, pungkasnya. MET.

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pemerintahan

Belum Kantongi Sertifikasi Layak Fungsi DPRD Surabaya, Minta Soft Opening Trans Icon Mall Dihentikan

Published

on

Basudewa – Surabaya, Komisi A DPRD Surabaya, bidang Hukum dan Pemerintahan menyoroti pembukaan operasional (Soft Opening) Trans Icon Mall pada Jumat (5/8/2022).

Sorotan tersebut, lantaran Trans Icon Mall belum layak fungsi.

Dalam hal ini, Komisi A menggelar rapat dengar pendapat dengan beberapa pihak terkait, termasuk manajemen Trans Icon Mall yang mengutus beberapa perwakilannya ke Gedung wakil rakyat di Jalan.Yos Sudarso Surabaya.

Melalui pantauan dilapangan, rapat dipimpin oleh, Pertiwi Ayu Krishna selaku Ketua, yang dikuti oleh Camelia Habiba (wakil), Budi Leksono (anggota), Imam Syafi,i (anggota), M. Mahmud (anggota), Ghofar Ismail (anggota) dan Suaifuddin Zuhri (anggota).

Sedangkan, pihak Pemkot Surabaya, dihadiri beberapa perwakilan dari Dinas terkait seperti, DPRKP, DSDABM, DLH, Dishub, Damkar, Dispora dan Satpol-PP Kota Surabaya.

Dalam rapat , Pertiwi Ayu Krishna, menegaskan, jika pihaknya, mendukung Wali Kota Surabaya, dengan seluruh program dan kebijakannya.

Salah satunya, Perwali Nomor 91 Tahun 2022 pasal 3 tentang Serifikat Laik Fungsi (SLF) Bangunan Gedung.

“ Kami mendukung program dan kebijakan Wali Kota Surabaya, untuk itu, kami juga mengapresiasi kepada seluruh investor (termasuk Trans Icon) yang menanam investasi di Kota Surabaya. Namun, tidak berarti bisa berbuat seenaknya, karena wilayah kami memiliki aturan dan kebijakan yang wajib dipatuhi, salah satunya soal SLF ,” ucap Ayu.

Ayu mendesak kepada Pemkot Surabaya, selaku regulator untuk menghentikan aktifitas pemanfaatan bangunan Gedung Trans Icon di Jalan. Ahmad Yani Surabaya, karena belum mengantongi SLF secara penuh.

“ Yang kami jaga adalah keselamatan penghuni Gedung yakni, para pengunjung juga pegawainya, maka jika masih diterbitkan 3 rekomendasi dari 3 OPD artinya, belum lengkap dan belum dikeluarkan sertifikasi SLF nya, sesuai aturan, ya ?, tidak boleh operasional. Soft opening atau grand opening nya harus dihentikan,” tandas politisi perempuan dari Partai Golkar ini.

Menanggapi hal ini, Vice President Corporate Communication Trans Icon, Satria Hamid, meminta agar soft opening tetap bisa dilaksanakan, sesuai agenda sembari melengkapi kekurangan yang disyaratkan, karena menyangkut nasib pegawai yang saat ini sudah bekerja.

Tak hanya itu, Camelia Habiba, juga mempertanyakan, soal kondisi trotoar jalan di depan area Gedung Trans Icon yang kondisinya rusak dan belum dikembalikan seperti semula.

“ Kami ini setiap hari melewati jalan itu dan melihat langsung jika kondisi trotoarnya masih belum dikembalikan seperti semula,” ujar Politisi perempuan asal fraksi PKB ini.

Merespon soal kerusakan trotoar di depan area Trans Icon, wakil dari manajemen Trans Icon, berjanji akan memperbaiki secepatnya. “Kami akan perbaiki secepatnya, sekira 1-2 minggu) ,” jawabnya.

Sementara Sekretaris DPRKPCKTR,  Ali Murtadho, mengaku, jika pihaknya, akan segera bergerak ke lapangan untuk melaksanakan rekomendasi hasil rapat dengan Komisi A DPRD Surabaya.

“ Kami akan kembali melakukan pengecekan berkas dan lokasi ,” tuturnya.

Adapun, Resume Rapat Komisi A DPRD Surabaya tentang evaluasi dan penjelasan perijinan Trans Icon , yakni, sesuai Pasal 3 Perwali Nomor 91 Tahun 2022 tentang Serifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung, rekomendasi harus terpenuhi samua sebelum SLF dikeluarkan.

Sedangkan, untuk Trans icon masih terbit 3 rekomendasi (Disnakertran, Damker, Dinkes) oleh karena itu, Trans lcon belum ada SLF, maka bangunan belum layak fungsi dan tidak boleh ada pemanfaatan terlebih dahulu.

Trans Icon, akan mengembalikan fungsi trotoar seperti semula.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending