Connect with us

Peristiwa

Owner PT. Golden Hexindo Indonesia Somasi PIL , Diduga Lantaran Kerap Cek-Cok.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Jalinan hubungan affairs atau hubungan tidak sebagaimana mestinya antara E selaku, owner PT.Golden Hexindo Indonesia dengan karyawan yang berinisial A sebagai Pria Idaman Lain (PIL) berakhir polemik dan memicu owner melakukan somasi kerugian secara materiil.

Tidak main-main, owner melakukan somasi hingga ketiga kali membuat A sebagai Pria Idaman Lain (PIL) kian panik sehingga, melakukan upaya klarifikasi melalui, Soegeng Hari Kartono yang di beri kuasa sebagai Penasehat Hukumnya. Sayang, upaya klarifikasi tersebut,  E (owner perusahaan) tidak bisa hadir.

Menurut informasi yang telah dihimpun tim basudewanews.com, melalui A (PIL) menyatakan pengakuannya, bahwa ia dengan E selaku owner PT.Golden Hexindo Indonesia ada hubungan spesial dan sudah berjalan selama 4 tahun.

Masih menurutnya, jalinan hubungan berawal saat ia diterima bekerja di PT.Golden Hexindo Indonesia selang berikutnya, ia memiliki ekspektasi mencari penghasilan sampingan berupa jual beli mobil bekas.
” Keinginan A justru di dukung oleh E selaku, owner PT.Golden Hexindo Indonesia. Atas dukungan tersebut, justru hubungan mereka semakin intim “, paparnya.

Hubungan spesial, yang telah berjalan 4 tahun kini kerap mengalami cek-cok lantaran, istri A mengetahui hubungan cinta segitiga.

Pada medio (9/1/2021),di rumah orang tua A (PIL) pernah didatangi 4 orang suruhan E guna mengantar surat somasi yang kedua kalinya. Selanjutnya, pada medio (12/1/2021), rumah A PIL didatangi 6 orang suruhan serta bertamu di rumah Ketua RT (rukun tetangga) menyampaikan maksud datang ke rumah A (PIL) .

Pada medio (13/1/2021), orang suruhan E kembali datang mengantar surta somasi yang isinya bahwa kerugian materiil semakin tinggi serta memberikan batas waktu sepekan agar A (PIL) bisa memenuhi pertanggungjawaban.

Secara terpisah, Soegeng Hari Kartono selaku, Penasehat Hukum saat ditemui basudewanews.com, mengatakan, bahwa dari surat somasi yang pertama hingga ke tiga kalinya yang menyatakan nilai kerugian materiilnya berubah-ubah atau semakin besar.
“Surat somasi yang pertama secara rinci tertuang nilai 200 juta. Sedangkan, somasi yang kedua nilainya menjadi sekitar 400 juta dan di surat somasi ketiga nilainya menjadi sekita 500 juta”, paparnya.

Ia menambahkan, dari somasi tersebut, tidak mempunyai nilai yang pasti yang mana harus kita selesaikan. Sehingga pihaknya, membalas surat somasi guna mengundang E datang ke kantornya.

Terkait, surat balasan ini, bukan berarti klienya diartikan terkesan sudah komitmen. Padahal belum ada komitmen apapun melainkan upaya menyelesaikan”, pungkasnya.

Hingga berita ini diunggah, E selaku, owner PT.Golden Hexindo Indonesia, belum bisa ditemui guna di konfirmasi.                      MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Peristiwa

Jelang Hari Pahlawan Solidaritas Wartawan Surabaya Gelar Doa Bersama

Published

on

Basudewa – Surabaya, Memperingati hari Pahlawan menjadi prioritas tersendiri bagi insan pers di Surabaya. Kebanggaan dan semangat juang “Arek Arek Suroboyo” yang di kobarkan melalui, siaran pers dari Bung Tomo menjadi Spirit tersendiri bagi generasi sekarang.

Mengingat adanya, peristiwa yang terjadi di depan Hotel Yamato pada 10 November 1945 menjadi sebuah peristiwa berdarah juga sebagai perang semesta yang melibatkan peran Pers kala itu.

Pentingnya, informasi di saat genting seperti itu, menjadi pedoman bagi perkembangan pergerakan yang akan di lakukan oleh, Arek Suroboyo untuk melancarkan serangan kepada pihak penjajah.

Perihal sejarah tersebut, dalam rangka memperingati 10 November 1945, solidaritas wartawan Surabaya, menggelar ” Tahlil Doa Bersama ” di Monumen Pers Jalan. Tunjungan nomor 100 Surabaya.

Disesi agenda tersebut, nampak di hadiri oleh, beberapa wartawan dari media Online mengingatkan insan pers, bahwa tetenger atau Monumen Pers ini, adalah sebuah kebanggaan bersama dan sudah sepatutnya wartawan yang memiliki semangat juang wajib melestarikan nilai nilai juang yang di wariskan oleh para pendiri bangsa.

Solidaritas Wartawan Surabaya, hanya ingin melestarikan dan mewarisi Spirit dari perjuangan pada 10 November 1945.

Berdasarkan niat tulus yang di lakukan oleh, sekelompok wartawan ini, tidak lebih dari rasa syukur dan mengenang semangat saat pertempuran waktu itu.

Adapun tokoh masyarakat mantan Anggota Dewan tahun 80 an bernama Marzuki juga turut Hadir dalam acara tersebut.

Marzuki berharap, pada wartawan muda yang memiliki semangat dan spirit juang seperti pendahulunya.

” Wartawan itu bukan sesuatu yang remeh, dia adalah pilar ke 4 negara, jadi masa depan bangsa tergantung juga pada wartawan. Maka dari itu, sangatlah tepat bila kalian mengadakan tahlil atau kegiatan di sini, sebab Monumen Pers adalah milik para wartawan atau insan pers. Siapapun tidak ada yang bisa menggantikannya ,” tutur Marzuki.

Sedangkan, Sekretaris Solidaritas Wartawan Surabaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua AWS (Aliansi Wartawan Surabaya), yakni, Kiki Kurniawan, sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang hadir dalam acara Tahlil dan Silaturahmi di Monumen Pers ini.

” Saya sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang sudah mensupport kegiatan ini, meskipun acara ini sangat sederhana namun doa yang kita sampaikan kepada Sang Pencipta semoga menjadi alat komunikasi bagi para pejuang Pers yang telah mendahului kita semua ,” ujarnya.

Kami memang sengaja tidak membuat proposal ataupun surat edaran yang berujung pada penggalian dana. Sebab ini, murni gerakan Moral, jadi sangatlah tidak pantas apabila kita mencari sokongan dana dengan meminta ke sana kemari padahal tujuan kita untuk berdoa, buktinya, dengan menyisihkan uang pribadi kita bisa menyelenggarakan acara tersebut.

” Ini bukti solidaritas, jadi percuma ngomong solidaritas kalau kita tidak bisa mewujudkan dalam kehidupan nyata. Jadi singkatnya, rekan rekan mengajak kepada seluruh wartawan Surabaya kembali mengingat bahwa Monumen Pers Surabaya adalah milik kita bersama dan bukan milik seseorang ataupun golongan ,” seru Kiki.

Sesuai rencana, gerakan solidaritas ini, akan terus di bangun. Selama untuk kepentingan bangsa.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh, beberapa rekan wartawan Surabaya, yang hadir pada acara tersebut.

” Gerakan ini, patut di lestarikan untuk memberikan edukasi kepada wartawan muda generasi penerus bangsa bahwa nilai juang patut di wariskan ,” pungkasnya.  MET.

Lanjutkan Membaca

Trending