Connect with us

Hukrim

Pasutri Kurir Pil Koplo Tertangkap Saat Nyabu.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Pasangan suami istri (pasutri) ditenggarai telah melakukan peredaran pil koplo ditangkap Jajaran Polrestabes Surabaya, saat Yani Bagus Arinta dan Nur Arifah (pasutri) memakai narkoba jenis sabu.

Kini nasib pasutri ditentukan oleh, Maya selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang mengadili pasutri di meja hijau guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pada medio Rabu (27/1/2021), dihadapan Hisbullah selaku, Majelis Hakim pada persidangan tersebut, JPU dalam bacaan dakwaannya menjerat pasutri sebagaimana
diatur dalam pasal 112 ayat (1) juncto pasal 132 ayat (1) atau pasal 127 ayat (1) huruf a serta jeratan pasal 197 atau pasal 196 Undang Undang RI No 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

Untuk diketahui, Yani Bagus Arinta telah menghubungi Agus Setiawan (napi yang mendekam dalam Lapas Medaeng) guna membeli 10.000 butir pil koplo jenis double L
setelah ada kesepakatan Agus Setiawan mengirimkan pil koplo tersebut, melalui Pandu Ismoyo selaku,jasa kurir.

Hubungan Yani Bagus Arinta berlanjut, hingga diperintahkan oleh Agus Setiawan guna mengambil 15.000 butir pil koplo di terminal Madiun. Atas asas saling menguntungkan keterlibatan Yani Bagus Arinta dan Nur Arifah diendus oleh, Jajaran Polrestabes Surabaya, hingga ditangkapnya pasutri dalam keadaan memakai narkoba jenis sabu. Dalam penangkapan, Jajaran Polrestabes Surabaya, mendapati sebungkus pil koplo dengan jumlah 10.000 butir.                                                    MET.

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Sidang Gugatan Nikah Beda Agama Tertunda Penasehat Hukum Penggugat Menilai Pengadilan Negeri Surabaya Langgar Azas Peradilan Cepat Dan Berbiaya Murah

Published

on

Basudewa – Surabaya, Peran agama dalam mengesahkan pernikahan atau syarat sahnya nikah dalam Islam tidak dipergunakan lagi telah memicu gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Atas penetapan pernikahan beda agama, tersebut, pihak Pengadilan Negeri Surabaya, menjadi sebagai Tergugat dan turut Tergugat yakni, Dispendukcapil Kota Surabaya.

Dipersidangan yang bergulir, pada Rabu (12/2022), Sang Pengadil terpaksa menunda persidangan gugatan atas penetapan nikah beda agama.

Hal yang mendasari, ditundanya persidangan, melalui, Penasehat Hukum Penggugat yaitu, Sutanto dan Bachtiar Yusuf, kepada basudewanews.com, mengatakan, pihaknya, menyesalkan, penundaan persidangan.

Dalam hal penundaan, pihak Pengadilan Negeri Surabaya, sendiri tidak sesuai dengan azas peradilan cepat dan biaya murah.

” Persidangan ini, sangat lama sekali dan sangat bertele-tele. Entah bagaimana kok bisa bertele-tele seperti ini.
Seharusnya, sesuai azas peradilan cepat dan biaya murah,” tuturnya.

Masih menurutnya, Pengadilan Negeri Surabaya, sendiri selain, kami gugat juga melanggar azas peradilan yakni, tidak melaksanakan peradilan cepat dan berbiaya murah.

Dengan kondisi seperti ini, pihaknya, mau tidak mau ya !, terpaksa mengikuti proses peradilan.

Dipersidangan yang beragenda pembuktian surat, pihak Pengadilan Negeri Surabaya, sebagai Tergugat hadir namun, turut Tergugat yakni, Dispendukcapil Kota Surabaya, tidak hadir.

Hal diatas, menurut Penasehat Hukum Penggugat, Bachtiar Yusuf, menilai, sebenarnya, tidak menjadi masalah turut Tergugat tidak hadir di persidangan ini.

Namun, Sang Pengadil, justru menunda persidangan lantaran, turut Tergugat tidak hadir. Adapun, alasan Sang Pengadil, yakni, agar dipersidangan mendatang turut Tergugat bisa melihat agenda pembuktian surat.

Pada persidangan mendatang, pada (11/1/2023), jika turut Tergugat tidak hadir maka Sang Pengadil, akan menyatakan, sikap yaitu, melanjutkan persidangan.

Lebih lanjut, Bachtiar Yusuf, mengatakan, pada persidangan mendatang, pihaknya, juga berencana akan menghadirkan saksi saksi diantaranya, dari PBNU, Muhammadiyah serta dari perkumpulan Penghulu.

Disinggung, terkait para pemuka agama yang lain, Bachtiar Yusuf, menanggapi, pihaknya tidak menyertakan pemuka agama lain dalam agenda saksi.

Sebagaimana diketahui, di Kristen sendiri juga tidak diperbolehkan nikah beda agama. Namun, ada pengecualian yakni, Dispensasi.

” Dispensasi sendiri dalam Islam tidak ada. Secara jelas Islam melarang dan kami berjuang ini ,” pungkas Bachtiar Yusuf.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending